Table of Contents

Suara dari Kelas Kosong (Cerpen)

Sekolah itu sudah tua. Cat dindingnya mengelupas, dan lorong-lorongnya selalu terasa lebih dingin saat sore menjelang. Tapi yang paling dihindari semua siswa adalah satu ruangan di ujung lantai dua—kelas 2B yang sudah lama tidak dipakai.

Katanya, dulu pernah ada kejadian aneh di sana.

Suatu hari, Arga dan tiga temannya—Rian, Siska, dan Danu—nekat masuk ke kelas itu sepulang sekolah.

“Ah, paling cuma cerita-cerita doang,” kata Rian sambil mendorong pintu kayu yang berderit pelan.

Kelas itu gelap. Debu tebal menutupi meja dan kursi. Di papan tulis, masih ada tulisan samar yang hampir tak terbaca.

Siska merinding. “Kita nggak usah lama-lama ya…”

Tiba-tiba, krek…

Suara kursi bergeser terdengar jelas.

Semua langsung diam.

“Itu kamu ya, Dan?” tanya Arga pelan.

Danu menggeleng cepat. “Bukan gue…”

Lalu terdengar lagi.

Krek… krek…

Kali ini lebih dekat.

Perlahan, salah satu kursi di pojok kelas bergerak sendiri. Tidak ada siapa pun di sana.

Siska langsung menggenggam tangan Arga. “Aku takut…”

Rian mencoba tertawa, tapi suaranya bergetar. “M-mungkin lantainya miring…”

Tiba-tiba, papan tulis di depan mereka mengeluarkan suara gesekan.

Greeeet…

Kapurnya bergerak sendiri, menulis sesuatu.

Mereka semua terpaku.

Tulisan itu perlahan terbentuk:

“KENAPA KALIAN MASUK…”

Danu mundur satu langkah. “Kita keluar sekarang.”

Belum sempat mereka bergerak, pintu kelas tiba-tiba tertutup keras.

BRAAAK!

Lampu yang tadinya redup mendadak mati.

Gelap.

Hanya terdengar napas mereka yang memburu.

Lalu… suara lain.

Suara seseorang… berbisik.

“…temani aku…”

Siska menjerit. Arga mencoba membuka pintu, tapi tidak bisa.

“KEBUKA! KEBUKA!” teriaknya panik, menarik gagang pintu sekuat tenaga.

Di belakang mereka, kursi-kursi mulai bergerak sendiri. Satu per satu, bergeser mendekat.

Krek… krek… krek…

Dan di papan tulis, tulisan baru muncul:

“JANGAN PERGI…”

Tiba-tiba pintu terbuka sendiri.

Mereka langsung berlari keluar tanpa menoleh ke belakang.

Saat sudah sampai di halaman sekolah, mereka terengah-engah.

“Lo lihat itu tadi…?” tanya Rian.

Tak ada yang menjawab.

Keesokan harinya, mereka mencoba menceritakan kejadian itu ke penjaga sekolah.

Penjaga itu hanya diam, lalu berkata pelan,
“Dulu… ada murid yang meninggal di kelas itu. Dia sering sendirian… nggak punya teman.”

Malamnya, Arga terbangun karena notifikasi ponselnya.

Satu pesan masuk… dari nomor tidak dikenal.

Isinya hanya satu kalimat:

“Besok… kalian masuk lagi kan?”

Dan di bawahnya… ada foto mereka berempat, di dalam kelas 2B.

Padahal… saat itu, tidak ada satu pun dari mereka yang memegang kamera.

Share to your social media

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Picture of Admin Jensyfa

Admin Jensyfa